Review

The Bible Jesus Read

11:47 PMHeri Kurniawan


Acungkan tangan bagi mereka yang juga punya kesulitan yang sama dengan saya dalam memahami Perjanjian Lama. Di mata saya, Perjanjian Lama selalu nampak asing jika disanding dengan 4 injil yang bersahaja. 39 kitab ini nyaris selalu menceritakan raksasa iman yang seperti bukan manusia pada umumnya. Kitab Taurat selalu punya cerita yang menakjubkan sekaligus menggentarkan, kitab puisi yang bahasanya melambung tinggi seringkali ikut melayangkan pengertian pula, atau kitab para nabi yang rasanya isinya sama saja semua. Dalam buku "The Bible Jesus Read", Philip Yancey memaparkan Perjanjian Lama, kitab yang juga dibaca oleh Tuhan Yesus, dengan gaya bahasanya yang gampang dimengerti dan membumi. Walaupun buku ini bukan dimaksudkan sebagai buku pedoman atau semacam pengantar kitab, di dalamnya Philip Yancey membahas secara khusus kitab-kitab di Perjanjian Lama yang menjadi pergulatannya secara pribadi (dan untungnya memberikan penjelasan yang cukup terhadap kebingungan saya sebagai pembaca awam mengenai) kitab Ayub, Ulangan, Mazmur, Pengkhotbah dan kitab para nabi.

Kitab Ayub merupakan dialog panjang antara Ayub dan kawan-kawan penghibur sialannya. Kitab puitis ini, kata Yancey, menariknya diawali dengan drama kosmis 2 pasal "pertaruhan" Allah-Iblis, topik penderitaan dan keadilan dituntut oleh sang orang saleh dalam 40 pasal selanjutnya. Di antara dialog-dialog panjang ofensif dari Elifas, Bildad, Zofar yang disahut oleh pembelaan diri Ayub disambut oleh Allah sendiri. Alih-alih menyibak 2 pasal di awal, Allah justru mempertunjukkan kemegahan semesta yang diciptakan dan dipeliharaNya.

Kitab Ulangan ditulis dengan prosa mengenai akhir hidup Musa dengan sangat manusiawi. Penulis membantu kita menelusuri dan berempati terhadap "beban" yang dipikul pemimpin besar umat Allah ini. Kisah hidup abdi Allah ini, seperti doanya di Mazmur 90, kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan. 80 tahun persiapan disusul 40 tahun kepemimpinan Musa terhadap umat yang selalu komplain dan ngambek ternyata diakhiri dengan sekedar berdiri memandangi dari garis batas akan tanah perjanjian itu lalu mati. Ending yang nyesek, begitu pikir saya, namun menariknya Philip Yancey mengupas hal yang saya lewatkan. Musa adalah salah satu tokoh yang bercakap-cakap dengan Tuhan Yesus pada saat transfigurasi di gunung, di dalam tanah perjanjian. Allah tidak melupakan hambaNya.

Pembahasan Kitab Mazmur di buku ini sungguh sangat membantu bagi para pemimpin kelompok kecil amatir seperti saya. Ada banyak kesulitan yang saya alami saat menggali kitab Mazmur (Ingat Bab 4 buku MHB yang menggali Mazmur 119, kan?). Ternyata, kesukaran yang sama juga dialami Philip Yancey. 50 bentuk puisi yang abstrak naik turun itu bisa saja kehilangan maksud dan keindahan awalnya jika dibedah dan dicacah melalui metode sistematis observasi-interpretasi-aplikasi. Karena memang membaca Mazmur, seperti kata Yancey, ibarat memproyeksikan diri ke pikiran para penulisnya dalam menghadapi godaan, merayakan keberhasilan, melampiaskan kekesalan, menderita akibat ketidak-adilan, dan dalam hidup kita.

Siapa yang galau atau hilang harapan kemudian membaca kitab Pengkhotbah yang selalu muram pasti semakin ingin mati sungguhan. Kitab ini penuh dengan kata "kesia-siaan" seolah label yang dilekatkan dalam eksistensi manusia di bawah matahari. Kitab para Nabi juga rasanya berisi ucapan yang rumit, nubuat yang sukar saya pahami atau gambaran yang saling tumpang-tindih. Karena memang mungkin Pengkhotbah adalah kitab yang membuat kita memandang kehidupan dengan realitas yang ada kemudian mengingat sang Pencipta dan melalui kitab para nabi, kita melihat dan menyaksikan 'curhat' Allah berulang kali melalui orang-orang pilihanNya mengenai rasa cemburu kepada umat yang terus menerus berpaling kepada berhala.

Pada akhirnya, Perjanjian Lama menceritakan bayang-bayang penggenapan janji Allah melalui Yesus Kristus. Memandang Perjanjian Lama dari perspektif  buku ini sungguh membuka wawasan dan menggugah hati. Alasannya sederhana, karena jika Perjanjian Baru penuh dengan surat-surat rasul tentang bagaimana menjalani hidup di hadapan Allah, Perjanjian Lama bertutur jujur tentang hidup bersama Allah. Kita menemukan begitu banyak diri kita yang jatuh-bangun dalam mengikuti Allah di dalam tokoh-tokoh yang ternyata juga memiliki cacat, nyaris sama dengan kita. Pertanyaan selanjutnya adalah hanya sampai sebatas kognitif belaka atau buru-buru membuka kembali lembar-lembar mulus-karena-jarang-dibaca itu?

You Might Also Like

2 comments

  1. Hmmm..bacaan berat ya. *pengen baca, tapi mikir lagi. Akakka..

    ReplyDelete
  2. Wah, lo baca yancey juga! =)

    ReplyDelete

Popular Posts

Coffee Treat

Saya memberikan lisensi GAMBAR ILLUSTRASI dan WALLPAPER yang ada di blog ini di Attribution-NonCommercial-ShareAlike CC BY-NC-SA. Singkatnya, kamu bisa pakai, remix dan edit karyamu berdasarkan gambar illustrasi dan wallpaper yang saya buat dan post di blog ini secara gratis untuk projectmu secara NON-KOMERSIL. Kamu nggak mesti mencantumkan sumbernya, tapi saya bakal seneng banget kalo kamu cantumkan :)

Kalau ada pertanyaan lebih lanjut, jangan ragu-ragu kontak saya di: himself@herikurniawan.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Contact Form