Cerita Pemikiran

Hormat Grak!

1:13 AMHeri Kurniawan

Prolog: "Kalau nggak ada alasan yang jelas: Positif dan negatifnya. Akan aku tentang terus "

Hari sudah senja. Pembantu-pembantuku sudah selesai membereskan rumah. Dia setrika baju. Dia cuci piring, sendok dan garpu. Nasi sudah dimasak. Lauk sudah siap lahap. Dia sikat toilet sampai mengkilap. "Juragan, saya mau pamit pulang dulu". Rumahnya memang jauh. Kalau tidak buru-buru nanti ketinggalan angkot melaju. "Makasih, Mbok" Kata Papaku sambil menengok. Gajinya dibayar buat sebulan. Si Mbok terima gaji, bersyukur dan tersenyum ringan. Upahnya dikasih lebih. Bonus buat kerajinan dan sikapnya si Mbok yang rapih.

Mang kebun juga sudah selesai. Habis merawat bonsai, anggrek, mawar dan teratai. Bunga-bunga mekar wangi menjuntai. Kerjaannya rapi walau sikapnya santai. Pak kebun jarang kelihatan. Kebanyakkan tersembunyi di semak daun pandan. Mukanya lusuh, bajunya berdebu. Tanah belepotan. Kadang lumpur seluruh badan. "Juragan, saya mau pamit pulang dulu". "Makan dulu, mang!" Ajak Papaku menyodorkan piring nasi isi daging dan sop tulang. Si Mamang makan sampai kenyang. Gaji si mamang juga dikasih lebih. Si Mamang bingung tidak mengerti.

Papaku memang baik hati. Dia memang dasarnya suka memberi. Nggak ada yang layak terima gaji lebih. Dia penuh kasih karunia, anugerah dan murah hati. Mang kebun makan dengan lahap masakan yang dibuat si Mbok. Tapi Mbok nggak kerja buat Mang kebun doang. Dia bekerja untuk Papaku. Si Mang kebun rawat tanaman supaya rumahku jadi cantik. Tapi dia nggak cuma tanam mawar biar si Mbok bisa selipkan di rambutnya. Dia bekerja buat Papaku. Si Mbok nggak nggaji Mang Kebun. Mang Kebun nggak nggaji Mbok. Semua kerjaan buat Papa. Walaupun Si Mbok tetep respek dan sayang sama Mang Kebun. Mang Kebun juga respek dan sayang sama Si Mbok. Dan walaupun mereka nggak saling menggaji. Mereka tetap saling menghargai. Respek nggak cuma diukur lewat gaji.

Suatu saat jika si Mamang nggak suka masakan si Mbok. Atau si Mbok nggak suka tanaman si Mamang. Mereka tetap bekerja. Karena Mereka bekerja buat Papaku. Mereka nggak layak minta, atau diberi gaji oleh satu sama lain. Cuma Papa yang layak menggaji mereka. Jangan sampai salah satu pembantu minta saling dihargai dengan gaji. Berdiri di depan supaya dapat hormat. Kalau mau dapat hormat harus digantung. Dikerek di atas tiang kayak bendera. Lalu diberi hormat. Hormat Grak!

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Coffee Treat

Saya memberikan lisensi GAMBAR ILLUSTRASI dan WALLPAPER yang ada di blog ini di Attribution-NonCommercial-ShareAlike CC BY-NC-SA. Singkatnya, kamu bisa pakai, remix dan edit karyamu berdasarkan gambar illustrasi dan wallpaper yang saya buat dan post di blog ini secara gratis untuk projectmu secara NON-KOMERSIL. Kamu nggak mesti mencantumkan sumbernya, tapi saya bakal seneng banget kalo kamu cantumkan :)

Kalau ada pertanyaan lebih lanjut, jangan ragu-ragu kontak saya di: himself@herikurniawan.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Contact Form