Cerita Pemikiran

Selamat Datang di Klub Sempurna

11:17 PMHeri Kurniawan

Hai, teman-teman! Selamat datang buat kalian semua di Klub Sempurna. Klub didirikan dua ratus lima puluh tahun lalu. Mulanya buat kumpulan orang-orang yang cacat dan buruk. Mereka belajar untuk memperbaiki diri dari berbagai latar belakang cacat. Ada yang cacat mental, cacat fisik, cacat moral, cacat kepribadian dan sebagainya. Saya sendiri juga cacat. Mata saya yang sebelah kanan sudah gosong gara-gara tersiram asam.

Di Klub ini, mulanya kami belajar menjadi sempurna. Kami berlatih menari berpasang-pasangan. Seminggu sekali kami belajar memasak acar jamur kuping masak kecap dan menyajikannya kepada orang-orang cacat lain yang datang berkunjung, namun tidak bergabung di Klub Sempurna. Setiap Senin kami belajar main angklung hip-hop, Rabu ada latihan pidato bahasa klingon, Jumat ada kursus menulis novel misteri, Sabtu ada les lempar cakram.

Mulanya berat sekali mengikuti klub sempurna ini. Kami keringatan dan ngos-ngosan tiap minggu. Sering sekali ada yang pingsan di tengah jalan. Tapi kemudian ada satu bapak-bapak yang menyemangati kami. Lalu Klub ini bangkit lagi walau lecet-lecet. Bapak itu sudah pindah ke Timbuktu. Sekarang, kami sudah jauh lebih hebat! Banyak dari kami yang menjadi seniman angklung, penerjemah dan hermeneuter bahasa Klingon, pemain sinetron horor misteri dan atlit lempar cakram tingkat nusantara. Badan kami makin kekar. Pikiran kami makin pintar. Tutur kami makin teratur. Cacat kami? Kan tadi sudah kukatakan, kalau kami sudah berevolusi jadi makin pintar.

Kami pun makin pintar mengelabui banyak orang. Si kaki satu entah dengan bagaimana memoles kaki palsunya seolah kaki beneran. Si sumbing mengenakan lipstik tebal dan dengan cerdiknya berdandan seperti bintang sinetron. Saya si cacat mata menutup-nutupi dengan bulu mata palsu. Kami...yah, hampir menyamai SEMPURNA!

Lalu perlahan, klub ini mulai makin hari makin menyebalkan! Satu orang dan orang lainnya -yah, aku kan tadi sudah cerita-kami makin pintar. Makin pintar ngomong, makin pintar cuap-cuap, makin pintar mengelabui orang. Merasa diri sempurna, kami saling menekan dan mengharapkan orang lain tampil sempurna. Kami menerapkan banyak aturan. Tapi yah, sebenarnya aturan-aturan itu tidak lebih sekedar etik kuno dan tradisi busuk di masa lalu, yang sebenarnya kami sendiri tidak mengerti. (Cuma merasa pintar saja dan mewarisi sesuatu yang kami anggap pintar tersebut. Bukannya tadi aku sudah bilang, kalau kami ini pintar?) Lalu kami menambahkan ini, menambahkan itu supaya klub kami makin sempurna. Tapi karena kami pintar, tentunya kami memberlakukan standar itu kepada anggota-anggota baru saja. Kami? Para cendikiawan cacat ini hanya koar-koar saja. Tidak perlu lah susah-susah.

Makin hari, klub ini makin sempurna. Tapi makin hari, saya makin merasa sebal dengan klub yang merasa diri paling sempurna dan paling pintar ini. Padahal di dalamnya, kami sama seperti kalian: cacat.

You Might Also Like

1 comments

Popular Posts

Coffee Treat

Saya memberikan lisensi GAMBAR ILLUSTRASI dan WALLPAPER yang ada di blog ini di Attribution-NonCommercial-ShareAlike CC BY-NC-SA. Singkatnya, kamu bisa pakai, remix dan edit karyamu berdasarkan gambar illustrasi dan wallpaper yang saya buat dan post di blog ini secara gratis untuk projectmu secara NON-KOMERSIL. Kamu nggak mesti mencantumkan sumbernya, tapi saya bakal seneng banget kalo kamu cantumkan :)

Kalau ada pertanyaan lebih lanjut, jangan ragu-ragu kontak saya di: himself@herikurniawan.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Contact Form