Catatan Pelayanan

Suatu Hari di Pinggir Jalan Yerusalem ke Yerikho

12:11 AMHeri Kurniawan

Jadi begini, dua minggu yang lalu saya digempur berulang kali dengan kisah yang berakhir twist ini. Orang Samaria yang murah hati adalah salah satu perumpamaan yang paling saya sukai selain perumpamaan anak yang hilang. Mulanya, di Training Pubdok sesi Penulisan Artikel, kami sama-sama membacakan puisi yang diparafrasekan dari kisah ini. Cerita yang sama saya bahas dalam kelompok kecil mengenai observasi latar belakang karena pada saat itu saya dan anak-anak Kelompok Kecilku tercinta sedang memasuki bagian Pendalaman Alkitab jenis Perumpamaan. Esoknya, cukup terkejut pula karena di bahan saat teduh saya, Our Daily Journey, membahas poin yang serupa. Ah, hanya kebetulan. Pikirku sambil lalu. Tak disangka-sangka, coba tebak! Pada hari Minggu, khotbah di gereja saya membahas topik yang serupa! Hmmm... Tuhan sebenarnya mau ngomong apa sih?

Perumpamaan ini diceritakan Tuhan Yesus untuk menjawab pertanyaan seorang ahli taurat yang mencoba menjebak Tuhan dengan pertanyaan, "Siapakah sesamaku manusia?". Ahli Taurat ini tidak bodoh. Dia hanya ingin membenarkan perspektifnya bahwa 'sesama manusia' hanyalah berarti orang sebangsa atau dalam kasta, golongan dan batas-batas tertentu, serupa dengan dia sendiri. Tidak dapat disangkal, kadang-kadang kita sudah begitu sering mendengar perumpamaan demikian sampai kesan yang timbul adalah brand bahwa semua orang Samaria itu polos dan murah hati. Namun, dengan mengetahui latar belakang budaya dan adat yang berlaku pada zaman itu, cukup menimbulkan shock bagi pendengarnya.

Dikisahkan, pada suatu hari di pinggir jalan Yerusalem ke Yerikho, seorang Yahudi terkapar setengah mati sehabis dirampok dan dianiaya. Seorang Imam, pemuka agama Yahudi datang lewat di jalan itu dan buru-buru meneruskan perjalanan tanpa menolong sedikitpun pada sang korban. Imam dan Ahli Taurat adalah dua golongan yang saling bertolak belakang. Musuhan. Jadi, mungkin saja dalam pikiran sang Ahli Taurat, ia menertawakan tingkah laku sang Imam. Apa sih yang bisa diharapkan dari golongan semacam ini yang tak mau mencemari tangan mereka dengan urusan yang bukan perkaranya. Kisah berlanjut. Orang berikutnya yang lewat adalah seorang Lewi. Hal yang sama pula. Sang Lewi ini pun tidak tergerak hati untuk membantu korban sekarat itu. Terlalu sibuk dengan urusannya. (Entah benar-benar sibuk, atau sok kelihatan sibuk?)

Dan dari kejauhan tampaklah satu sosok lagi yang datang mendekat. Ahh, kali ini pasti golonganku, pikir si Ahli Taurat. Tapi tidak demikian kisahnya. Sebaliknya, orang Samaria yang akhirnya berhenti karena belas kasihan kepada orang Yahudi yang terkapar itu. Merawatnya, membawanya ke penginapan yang layak dan bukan cuma itu, ia menitipkan uang yang banyak untuk biaya perawatan dengan janji akan kembali lagi.

Orang-orang Samaria mulanya bagian dari Israel pula. Namun semenjak mereka melakukan kawin campur dengan bangsa-bangsa lain yang dibuang ke daerah mereka, ada semacam perseteruan keji antara Yahudi dan Samaria. Orang-orang ini dianggap hina dan tidak masuk hitungan bagi Yahudi. Seperti banyak perumpamaan, akhir dari metafora ini kerapkali tidak dapat ditebak. Justru reaksi seperti inilah yang diharapkan.
Pada akhirnya, Tuhan Yesus balik bertanya kepada sang Ahli Taurat itu, "Menurutmu, siapakah yang menganggap si korban itu sebagai 'sesama manusia' yang patut dikasihi seperti mengasihi diri sendiri?". Jawaban yang diberikan si Ahli Taurat yang benar-benar keras hati ini sekali lagi mencengangkan. "Orang yang menunjukkan belas kasihan." Demikian tuturnya singkat, tidak sanggup menyebut 'Orang Samaria' sangking bencinya. "Pergilah, perbuatlah demikian." Tutup Yesus. Jangan sekedar tahu, namun lakukan kebaikan itu.

Sudah sebulan ini, DKV Binus melakukan satu proyek bersama secara massal. Dosen-dosen dikerahkan, Mahasiswa bahu membahu, semuanya menyongsong kedatangan David Berman, penulis buku 'Do Good Design' dengan proyek-proyek berbuat kebaikan yang ramah sosial dan ramah lingkungan lewat desain. Lingkupnya di sekitar Syahdan, kampus kami. Motivasinya? Tidak ada motivasi lain selain buat kepuasan pribadi para altruis probono ini dan menjadikan lingkungan ruang kami beraktivitas jadi lebih baik. Titik. Kita berbuat baik karena kita bisa. Kita berbuat baik karena kita harus.

Jadi, dari sekitar 400 mahasiswa DKV angkatanku, dipilih 40 anak yang (dianggap terbaik) menjadi beberapa kelompok proyek. Ada kelompok yang mengangkat Pangkalan Ojek. Mereka me-rebrand kesan semrawut para abang-abang menjadi lebih trendy dan lebih nyaman. Kelompok lain mencoba mengangkat citra Pasar Kembang Rawa Belong. Proyek lain mengenai topik menghargai pengamen dan proyek pemetaan area jalan Syahdan untuk memudahkan mahasiswa baru. Kelompok saya melihat issue bahwa menjadi mahasiswa di Jakarta, khususnya di Binus, ruang publik sudah nyaris tidak ada dan olahraga menjadi satu barang mewah, hanya buat mereka yang punya waktu dan punya duit. Palingan ngeGym atau dengan intensitas yang luar biasa jarang, jogging ke Senayan atau Futsal di lapangan sewaan. Tidak murah dan sulit dijangkau. Nah, kelompok kami mempublikasikan jalan-jalan pintas di seputar Syahdan yang jarang dilalui kendaraan dan lapangan kecil di ujung gang yang masih bebas polusi dan bebas macet di pagi hari. Sebuah rute untuk lari pagi yang murah meriah. Lagipula, selagi jogging, kamu bisa menyapa bapak ibu warga yang dengan ramahnya, balik menyapa dan tersenyum. Pagi di Jakarta tidak selamanya sumpek dan berbayar. Bisa segar dan gratis pula. :)

Proyek kami selesai pada saat workshop David Berman di akhir Mei 2011. Tapi semangatnya tidak luntur. Beberapa mahasiswa masih terbakar untuk melakukan hal-hal baik buat sekitar tanpa dikomando. Walaupun saya juga tidak menyangkal, lewat proyek ini, terlihatlah mahasiswa (yang katanya terbaik itu) namun tak punya hati sosial sedikitpun. Dengan berbagai alibi, ongkang-ongkang kaki tak mau peduli. Ah, semoga saya tidak jatuh pada sikap menghakimi mereka. Mungkin memang mereka sedang sibuk sampai tidak sempat melakukan aksi sosial yang menyenangkan ini, punya urusan yang lebih mendesak semacam urusan keluarga (mungkin), atau memang buat mereka nilai tugas kuliah saya tidak boleh dicemari dengan waktu yang diinvestasikan untuk proyek gratisan ini?

Di masa-masa regenerasi ini, Saya berpikir lagi mengenai pelayanan nirlaba. Repot-repot di persekutuan kampus mengurusi anak orang lain yang tak jelas asal-usulnya. Berkorban waktu, tenaga, uang bahkan emosi cuma buat satu kata yang berjuta makna: pelayanan. Kalau yang lain liburan bisa santai-santai, kami disibukkan dengan rapat sampai jauh malam. Sementara yang lainnya menghamburkan uang, kami mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk beli alat musik. Dan masih banyak lagi. Tidak usah dirinci satu per satu lah.

Pertanyaannya adalah: Buat apa? Buat siapa? Apa motivasinya? Apa esensinya? Kalau mau jujur, tidak terlalu banyak 'buah' yang dihasilkan atau terobosan besar-besaran yang dicapai selama ini. Bertumbuh sedikit sih mungkin ada, namun tidak terlalu signifikan. "Ada gunanya nggak, sih?!" Sejenak saya merenungkan dan bertanya setengah pada diri sendiri saat pikiran penat dan beban semakin menumpuk. "Gila kau, Her!" Tegur sahabatku keras. "Pelayanan buat Tuhan lah!" Ujarnya lagi. Mungkin belum terlihat hasilnya atau mungkin tidak ada hasil sama sekali, tapi kau nggak boleh menyerah. Kita tidak boleh menyerah. Hasil itu urusan Tuhan saja, yang penting kita kerjakan apa yang dipercayakan ke kita. Bukankah manusia tidak mungkin mampu mengubah hati manusia? Tidak cukupkah alasan bahwa Tuhan-lah yang lebih dahulu mengasihi kita, sehingga kita dimampukan mengasihi orang lain seperti diri sendiri?

Malam ini, saya kembali memikirkan ulang dalam-dalam segala kejadian, percakapan dan perumpamaan ini. Perumpamaan yang indah didengar kalau sedang berada di bangku sekolah minggu yang warna-warni, atau dalam gedung sejuk nan nyaman berAC. Tuhan sebenarnya mau ngomong apa sih?

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Coffee Treat

Saya memberikan lisensi GAMBAR ILLUSTRASI dan WALLPAPER yang ada di blog ini di Attribution-NonCommercial-ShareAlike CC BY-NC-SA. Singkatnya, kamu bisa pakai, remix dan edit karyamu berdasarkan gambar illustrasi dan wallpaper yang saya buat dan post di blog ini secara gratis untuk projectmu secara NON-KOMERSIL. Kamu nggak mesti mencantumkan sumbernya, tapi saya bakal seneng banget kalo kamu cantumkan :)

Kalau ada pertanyaan lebih lanjut, jangan ragu-ragu kontak saya di: himself@herikurniawan.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Contact Form