Cerita Kontemplasi

Kartu Semoga Lekas Sembuh

10:14 PMHeri Kurniawan

"Salah! Bukan kayak gitu, tauk!" Si Upik menggertak Buyung yang mengernyit memandangi lukisan krayonnya. Batang-batang lilin berwarna itu berserakan di lantai. Beberapa sudah menggoreskan warna-warna cerah di kertas Buyung. Merah, hijau, biru sesekali diselingi cokelat muda dan ungu. "Kalau matahari itu warnanya jingga. Bukan merah!" lanjut Upik galak.

"Tapi kan, Kak. Kalau lagi sore-sore, mataharinya warna merah". Si Buyung memberanikan diri menjawab kakaknya. Krayonnya dipegang erat-erat seakan kakaknya bisa melahap kertas gambar beserta seluruh batang pewarna yang tersisa itu. "Gini deh, kan gambar aku pernah dimuat di majalah Sempurna. Kamu diam saja. Aku jauh lebih ngerti daripada kamu." Upik merenggut krayon warna jingga dari bawah kotaknya dengan penuh gaya. Lalu menorehkan arsiran-arsiran oranye yang terpercah dari balik sudut sosok setengah lingkaran tersembunyi malu-malu.

Upik dan Buyung sedang sibuk membuat kartu lekas sembuh untuk Sinyo, Kakak sepupu mereka, lulusan Desain Komunikasi Visual di universitas tersohor di Negeri Sempurna. Upik yang lebih tua 2 tahun dari Buyung berkali-kali memprotes seluruh garis, sudut dan titik dalam lembaran karton putih itu. Menurut Upik, Buyung tidak tahu apa-apa. Kalau menggambar gunung itu musti Gunung biru yang menjulang tegak seperti logo aksara sebuah restoran cepat saji, lalu ada jalanan lurus yang membagi kertas itu simetrikal, persawahan hijau yang padinya cuma daunnya beberapa lembar mencuat dari tanah dan burung-burung angka 3 telentang. Yaah... tipikal lukisan anak-anak yang, entah bagaimana, selalu saja serupa sepanjang zaman segala abad, dan seluruh penjuru lah. Masakan meski sudah diajari berkali-kali kalau menggaris gunung, masih saja mencong-mencong. Pohon itu musti pohon kelapa yang daunnya lancip-lancip. Burung itu musti elang, tiga terlentang. Dalam doktrin Upik, selain elemen-elemen dan warna-warna baku itu, haram hukumnya!

"Semoga... lekas.. sembuh.." Eja Upik setelah akhirnya berulang kali kehabisan kesabaran dan memutuskan untuk mengerjakan seluruh sisa halaman di kover depan kartu tersebut. Padahal, perjanjiannya Buyung akan mengerjakan ilustrasinya dan Upik akan menulis ucapannya, karena tulisannya jauh lebih rapi daripada 'tulisan dokter' Buyung.

Sinyo tertawa seraya sesekali membaca berulang-ulang kartu penuh warna dan doa yang kini di tangannya sewaktu mendengar Nonik menceritakan sejarah di balik kartu tersebut. Dengan suplemen harapan dari sepupu-sepupunya, suntikan semangat tawa dari sahabat sewaktu mengisahkan ulang perdebatan itu, tiba-tiba rasanya ia merasa sangat sehat. Sinyo berpikir ia akan mengunjungi sepupu-sepupu tersayangnya dan mentraktir es krim lapis coklat tebal cebanan itu.

Bukan karena kartunya atau karena garis-garis gunung yang super lurus atau sawah ekstra hijau atau mentari jingga itu. Apalah arti satu lapangan sepakbola coretan anak kecil jika dibandingkan mahakarya ala Pablo Picasso ukuran postcard? Atau seberapa sempurnakah kamu mengharapkan tulisan tanganmu dibanding kerning nan ideal dari Helvetica, Georgia dan kawan-kawan lainnya? Namun karena ada sinergi yang penuh kasih dari tangan-tangan yang bersama ingin mempersembahkan cinta yang terbaik, kasih yang menyembuhkan dan walaupun dalam keterbatasan satu sama lain, rasa sayang yang saling memandu. Saya rasa hal-hal demikian yang jauh lebih utama dan pastinya membuat sebagian keruwetan hidup berkurang atau setidaknya semoga lebih lekas sembuh.

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Coffee Treat

Saya memberikan lisensi GAMBAR ILLUSTRASI dan WALLPAPER yang ada di blog ini di Attribution-NonCommercial-ShareAlike CC BY-NC-SA. Singkatnya, kamu bisa pakai, remix dan edit karyamu berdasarkan gambar illustrasi dan wallpaper yang saya buat dan post di blog ini secara gratis untuk projectmu secara NON-KOMERSIL. Kamu nggak mesti mencantumkan sumbernya, tapi saya bakal seneng banget kalo kamu cantumkan :)

Kalau ada pertanyaan lebih lanjut, jangan ragu-ragu kontak saya di: himself@herikurniawan.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Contact Form