Pemikiran Robot dan Monster

Robot dan Monster: Tarian Kemenangan

1:00 AMHeri Kurniawan

Robot Kelabu itu terkekeh-kekeh. Rahangnya yang berkarat berkeriut naik turun seiring buncahan-buncahan gelak terdengar dari tawanya yang dalam namun tetap teratur. Ha.. Ha.. Ha... Ya, robot itu pun selalu tertawa dengan anggun begitu. "Dasar monster-monster kikuk." Gumamnya sambil memperhatikan tarian-tarian fantastis mereka. Dia jauh lebih tua dari kaleng minyak Dorothy di Oz atau kala Atom baru saja ditemukan Osamu Tezuka. Bagi Revo, demikian robot itu memperkenalkan dirinya, segala sesuatu mesti terstruktur dan terorganisir barulah namanya hidup. Metropolis Sempurna hancur jika tidak ada barang bernama hukum.

Tapi saat ini mereka tidak berada di Metropolis lagi. Revo si Kelabu terjebak dalam satu terowongan bawah tanah, Undercity. Metropolis Sempurna, di atas sana, sedang dikuasai raksasa-raksasa tolol berotak bawang. Setiap hari kerjanya melempar batu ke tiang-tiang dan saling membakar apa yang tersisa dari kereta dan Rumah Putih. Kekacauan dimana-mana. Walikota sudah lama mati. Kini yang tersisa hanya boneka manekinnya yang disumpal hati baboon. Buronan dan tawanan perang bergerilya di Undercity. Pelan-pelan jumlah mereka bertambah banyak oleh pendatang dari kanal lain, atau sebagian pergi mencari peruntungannya di liang-liang lain. Shelter, pusat gorong-gorong kota, dirayapi dengan Robot reot, Monster mata satu atau Cyborg canggih yang setiap hari bergabung mencari perlindungan. Para pendatang aman di sana, karena para Gigantis takut kegelapan. Mereka juga tidak mau repot-repot mencari kutil dan mengisap cacing dalam tanah. Biarlah biawak-biawak itu berkembang biak dahulu, nanti urusan nanti. Demikian pikir para Gigantis.

Malam ini, adalah Halo ke sebelas. Shelter semakin penuh sesak dengan keramaian warga Undercity. Robot-robot kecil duduk diam digendong oleh Ayah atau Ibunya yang sibuk memilih mineral untuk santapan Kenduri. Mereka sudah hampir seharian disana. Memilih, menawar, lalu pergi ke kios sebelah lalu memulai lagi perdebatan alot dengan pedagang-pedagang. Bau besi tua bercampur keringat dari 8 ketiak, sungguh Pasar itu bukan tempat untuk berlama-lama berdiri.

Lalu tiba-tiba di tengah kerumunan, kericuhan itu terjadi. Costa si Jangkung dan Marty si Berbulu. Dua monster muda yang meledak-ledak. Dengan girang mereka berteriak seperti monster gila. "Kita menang! Kita menang!" jerit Marty melompati peti zamrud dan krisolit dengan lihai. Tidak satu pun permata-permata itu jatuh berserak. "Gigantis sudah kalah. Musuh sudah musnah Kita tidak perlu jadi babu!".Jogetnya senang. Telinganya naik turun dan tanduk rusanya berkilat-kilat gagah. "Benarkah demikian?" Sahut seorang monster tua di ujung jalan sana. "Iya! Aku lihat kejadiannya. Hore! Rantai-rantai sudah lepas. Kawat duri itu sudah diangkat dan sebentar lagi, cihuy, jalan menuju Metropolis akan terang benderang!" Costa menimpali.

Bangsa Monster senang sekali berdansa dan menari. Mereka ahli olah jasmani. Gerakannya kadang liar seperti serigala tapi tak jarang gemulai dengan satu irama seperti angsa. Dan jika satu monster menari, biasanya akan diikuti dengan beratus-ratus pasang monster lainnya. Hal itu lazim dilakukan di pesta-pesta minum atau pernikahan Undercity, tapi kali ini, di tengah pasar? Alamak! Lalu segera saja ratusan monster itu berjingkrak, melompat, menepuk, bergoyang, meliuk dan menari dalam satu irama. Satu baris demi satu baris, monster yang baru datang bergabung. Mereka meletakkan pikulan dan koper-koper di dasar Shelter dan tanpa basa-basi menggabungkan diri dengan alunan 'hey' dan 'hoy' para monster. Setelah bergabung dua lagu, baru sang pendatang berbincang. Ada apa gerangan sampai kita menari begini? Revo menepuk jidatnya. "Kaum rendah tak berintelek."

Namun segera saja umpatannya tak sempat berlanjut. Tangan-tangan ramping menariknya ke tengah lingkaran. "Maaf! Excuse me! Hahaha" Revo tertawa canggung tapi sopan, "Maaf, tapi anda salah orang. Aku tak bisa menari!". Dia meronta melepaskan diri dari cengkraman hangat tentakel-tentakel itu. "Tak perlu sungkan, Sobat! Ini waktunya berdansa!" Ujar si tuan Tentakel. "Sungguh, aku tidak bisa, maaf.. " Lalu Revo tidak ingat sisanya. Langit gelap, lampu-lampu tiba-tiba meredup dan sepertinya ada kilasan-kilasan cahaya dan sonar yang mendengung memekak telinga. Para cyborg bersayap dan berpistol perak. Darah dan minyak berserakan lalu gelap seperti ada ingatan yang hilang atau terhapus karena terlalu malu untuk dikenang. Kenangan kebenaran yang sepotong itu lebih berbahaya daripada ketidakmengertian total.

Sejak itu yang langit-langit Undercity tahu hanyalah dua fakta: Para monster itu biadab tak berakal dan Kaum robot itu angkuh tak berhati. Kemenangan terhadap gigantis, kawat-kawat yang terangkat dan terowongan terang benderang seolah jadi topik kusam dibanding permusuhan rakyat Robot dan Monster. Inilah riwayat Undercity, reruntuhan terowongan bawah tanah Metropolis, kota Sempurna.

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Coffee Treat

Saya memberikan lisensi GAMBAR ILLUSTRASI dan WALLPAPER yang ada di blog ini di Attribution-NonCommercial-ShareAlike CC BY-NC-SA. Singkatnya, kamu bisa pakai, remix dan edit karyamu berdasarkan gambar illustrasi dan wallpaper yang saya buat dan post di blog ini secara gratis untuk projectmu secara NON-KOMERSIL. Kamu nggak mesti mencantumkan sumbernya, tapi saya bakal seneng banget kalo kamu cantumkan :)

Kalau ada pertanyaan lebih lanjut, jangan ragu-ragu kontak saya di: himself@herikurniawan.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Contact Form