Kuliah Motion Graphic

Sederhana Tapi Berbobot

10:13 PMHeri Kurniawan

Animasi, dwimatra atau trimatra, selalu menghipnotis hampir semua anak sejak kecil. Siapa sih yang dalam hidupnya belum penah menyaksikan minimal satu episode Doraemon? Ilusi yang tercipta dari sekumpulan gambar diam yang ditampilkan secara beruntun, lalu diiringi vokal dan musik latar, menggagas sebuah kisah yang seolah-olah beneran hidup. Sektor industri kreatif lokal yang dengungnya kian nyaring sejak awal mula kabinet periode ini, turut mengeliatkan gairah perguruan tinggi dan sekolah kejuruan membuka jurusan animasi. Namun, mengapa sampai sekarang animasi lokal masih belum juga bersinggasana di ranah sendiri ini?

"Coba kalau bikin animasi itu yang simple-simple aja tapi berbobot", mengutip istilah Alm. Pak Denny A. Djoenaid di depan kelas perkuliahan saya. Sosok empu animasi dua dimensi kebanggaan Indonesia yang gaya mengajarnya santai, iseng, easy going dan mengayomi. Animasi itu, selain "menjual" visual yang cantik, juga sarat dengan budaya yang melatarinya. Nggak bisa kita paksa ksatria yang berubah pake sabuk, berpedang laser, melawan monster di daerah pasar ikan dalam negeri. Nggak nyambung sama pikiran ala bangsa kita yang cenderung gemar berkelakar ringan atau komedi kisah sehari-hari. Mungkin inilah resep rahasia kesuksesan seri kartun dua bocah botak dan kisah mereka di kampung melayu seberang. Animasi yang tetap berbalutkan kekhasan ciri budaya sendiri. Betul betul betul?

Sungguh sebuah kesempatan langka bahwa saya dan teman-teman sempat mengerjakan proyek tugas kuliah iklan "Garuda vs Tikus" di bawah supervisi beliau. Siapa yang sangka animasi 2D bertema anti korupsi ini kelak diputar pada festival Kumpul Animasi Jakarta 2010, memenangkan Indonesian Graphic Design Award 2009 dan saat artikel ini ditulis, diputar pula pada International Berlin Short Film Festival, Jerman. Yang patut disayangkan, tak satu pun momen ini sempat dinikmati oleh beliau yang keburu berpulang. Perguruan tinggi, sekolah, dan institusi yang mengajarkan animasi masih butuh sesepuh-sesepuh turun gunung. Ahli animasi yang berkecimpung secara mendalam, namun tak pelit pula berbagi pengalaman dan menurunkan ilmu. Mahasiswa pun harusnya tidak boleh asal terima jadi saja. Animasi itu dinamis, demikian pula industri dan perkembangan gayanya. Bekal yang diwariskan selama menempuh edukasi harusnya not only taken for granted, tapi dikembangkan dengan luwes, namun tetap menjunjung kekhasan lokal. Jangan lupa, pemerintah pun juga punya andil besar dalam mengolah ladang kreatif jika sudi mengucurkan support financial dan investment yang memadai. Tidak sedikit curhat kakak-kakak alumnus yang rela bekerja lintas negara demi menjaga asap dapur tetap ngebul, sangking desperate-nya terhadap industri animasi lokal. Nah, kalau semua pihak sudah ambil andil, rasanya suatu hari nanti tidak tak ternyana bahwa animasi lokal pun berjaya. Well, when your heart is in your dream, no request is too extreme, lah!

Artikel ini ditulis untuk rubrik 'Opini' mahasiswa di majalah CHIP edisi spesial Animasi yang diterbitkan berbarengan dengan Fresh n Brite 2011 DKV Binus University. Big thanks buat Pak Tunjung & Animation - School of Design, Binus University buat kesempatan beropini di sini. :)

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Coffee Treat

Saya memberikan lisensi GAMBAR ILLUSTRASI dan WALLPAPER yang ada di blog ini di Attribution-NonCommercial-ShareAlike CC BY-NC-SA. Singkatnya, kamu bisa pakai, remix dan edit karyamu berdasarkan gambar illustrasi dan wallpaper yang saya buat dan post di blog ini secara gratis untuk projectmu secara NON-KOMERSIL. Kamu nggak mesti mencantumkan sumbernya, tapi saya bakal seneng banget kalo kamu cantumkan :)

Kalau ada pertanyaan lebih lanjut, jangan ragu-ragu kontak saya di: himself@herikurniawan.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Contact Form