Inspirasi Kontemplasi

Is It Well With My Soul?

6:00 AMHeri Kurniawan


"Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!"
- Ayub 1:21
"Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?"
- Ayub 2:10

Pada zaman dahulu, hiduplah seorang pria yang saleh, terpandang dan kaya raya. Ia memiliki penghasilan yang baik, seorang istri dan anak-anak yang manis. Namun pada suatu waktu yang nyaris bersamaan semua itu diambil darinya: sumber penghasilannya lenyap dan anak-anaknya meninggal dengan tragis. Familiar dengan kisah ini? Mungkin beberapa dari kamu akan langsung mengacungkan tangan dan bilang "Ini kisah Ayub!". Hampir benar, karena kisah pria ini nyaris serupa dengan Ayub.

Namanya Horatio G. Spafford, seorang pengacara mapan, direktur sebuah seminari teologi Presbiterian, dan aktif pelayanan. Spafford juga adalah rekan dari penginjil D.L. Moody dan Sankey. Ia mendirikan bisnis real estate dan pada tahun 1861, ia menikah dengan Anna Larssen. Mereka dikaruniai empat anak gadis dan seorang putera yang meninggal karena sakit.

Tragedi pun dimulai. Pada Oktober 1871, sebuah kebakaran besar terjadi di Chicago yang menghanguskan sepertiga kota tersebut, termasuk pula real estate milik Horatio. Pada November 1873, ia beserta istri dan empat anaknya berniat mengikuti pelayanan Moody di Inggris. Tetapi karena kesibukan pekerjaannya, Horatio akhirnya mengatur perjalanan istri dan empat anaknya untuk berlayar lebih dahulu sementara ia berniat menyusul mereka setelah urusannya bisnisnya selesai. Malangnya, perjalanan istri dan anaknya bernasib naas. Sebuah kecelakaan menenggelamkan kapal yang mereka tumpangi. 226 penumpang tewas. Anna, sang istri, yang berhasil selamat, sedangkan empat puterinya tenggelam dan meninggal di tengah laut. "Hanya aku sendiri yang selamat. Apa yang harus aku lakukan?", demikian kabar telegram yang dikirimkannya kepada suaminya. Horatio segera berangkat menyusul istrinya dengan kapal. Di tengah perjalanan di laut, Horatio yang merasa sangat sedih akan kehilangannya yang bertubi-tubi, terilhami untuk menulis sebuah lirik sebagai seruan kepedihan sekaligus kepercayaannya:

When peace, like a river, attendeth my way,
Ketika kedamaian seperti sungai di jalanku terbentang
When sorrows, like sea billows, roll
Ketika kesusahan seperti gulungan laut bergelombang
Whatever my lot, Thou hast taught me to say:
Apa pun bebanku, Engkau membimbingku
It is well, it is well, with my soul.
Tenanglah, tenanglah jiwaku

Though Satan should buffet, though trials should come,
Meskipun iblis terus menyerang, dan pencobaan terus datang
Let this blest assurance control,
Biarlah jaminan mulia Allah memimpinku
That Christ has regarded my helpless estate,
Bahwa Kristus telah menebus ketakberdayaanku
And hath shed His own blood for my soul. 
dan menumpahkan darahNya untuk menyelamatkan jiwaku

Philip Bliss kemudian mengarang melodi lagu yang kerapkali kita nyanyikan sampai sekarang. Baik lirik lagunya maupun kisah yang melatarbelakangi penciptaan lagu tersebut telah memberkati banyak orang untuk bersandar dan berharap kepada Allah yang mengaruniakan ketenangan bagi jiwa.  Namun ternyata kisah Horatio tidak selesai sampai di sini, episode kehidupan berikutnya mungkin jarang diceritakan serta dalam kesaksian latar belakang lagu tersebut. Pada akhir hidupnya di 1880-an, Horatio sekeluarga pindah ke Yerusalem. Horatio menderita gangguan jiwa. Ia mengalami kegilaan dan menganggap dirinya sebagai mesias kedua. Beliau wafat pada Oktober 1888 di usia yang ke-60 karena penyakit Malaria. Kisah yang terlalu tragis untuk diceritakan secara menyeluruh. Mungkin agar mereka yang mengikut Tuhan tidak buru-buru terpukul lalu gentar mundur mendengar bahwa suatu saat dalam perjalanan mengikut Tuhan bisa saja berujung suatu pengalaman yang pahit. Who knows?

Kenyataan bahwa menjadi anak Tuhan, bahkan seorang anak Tuhan yang saleh sekalipun, tidak pernah menjamin bahwa kita tidak akan pernah mengalami kehilangan dan penderitaan. Bahkan justru sebaliknya, seperti kisah Ayub atau kisah Horatio, Allah pun mengizinkan pencobaan datang bertubi-tubi kepada orang salehNya. Seperti kata seorang teman, pencobaan-pencobaan demikian dipakaiNya sebagai sarana agar kita naik level.

Berhadapan dengan Allah yang hikmatNya tidak terselami dan rencanaNya tidak terpahami oleh akal kita yang terbatas adalah pengalaman untuk semakin mengenal Dia dan setiap karyaNya dalam hidup kita secara terus menerus. Kesempatan untuk membuka mata kita dan berhenti 'membatasi' lingkup kerja Allah yang melampaui pengertian manusia yang tidak sempurna ini, kemudian berlutut di hadapan kedaulatanNya dan stop meragukan kebaikan kekalNya. Siapa yang bilang ini gampang? Siapa yang bilang ini serta merta dan instan?

Menilik kembali latar belakang lagu tersebut di atas dan terlepas dari kisah ironis dari Horatio, sang penulisnya, "It Is Well With My Soul" tetap merupakan salah satu lagu himne yang indah dan baik. Bagaimana pun juga, semua lagu dan puji-pujian Kristen (Ya! Termasuk pula lagu himne atau lagu kontemporer atau lagu apa pun jenisnya) pun ditulis oleh manusia yang dalam status "belum-sempurna-masih-bisa-berbuat-dosa-dan-jatuh-dalam-berbagai-pencobaan". Tidak dapat dipungkiri bahwa pengalaman dan kisah pribadi sang pengarang turut memberikan sumbangsih dalam penuangan gagasan dan lirik sebuah lagu yang sering dinyanyikan secara komunal (berjemaat). Dari lagu-lagu atau kesaksian-kesaksian tersebut, kita mengenal Allah secara potongan demi potongan, tetapi di sisi yang lain kita pun berkesempatan yang sama untuk menyaksikan Allah yang membuka diriNya untuk dikenal secara pribadi kepada setiap anak-anakNya. Masing-masing kita dikaruniakan Alkitab yang adalah FirmanNya dan lewat Tuhan Yesus Kristus, AnakNya, pengantara kita. Sampai akhirnya, kelak kita semua bisa berkata seperti Ayub:

"Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau."
- Ayub 42: 5

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Coffee Treat

Saya memberikan lisensi GAMBAR ILLUSTRASI dan WALLPAPER yang ada di blog ini di Attribution-NonCommercial-ShareAlike CC BY-NC-SA. Singkatnya, kamu bisa pakai, remix dan edit karyamu berdasarkan gambar illustrasi dan wallpaper yang saya buat dan post di blog ini secara gratis untuk projectmu secara NON-KOMERSIL. Kamu nggak mesti mencantumkan sumbernya, tapi saya bakal seneng banget kalo kamu cantumkan :)

Kalau ada pertanyaan lebih lanjut, jangan ragu-ragu kontak saya di: himself@herikurniawan.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Contact Form